Namaku Kandi, aku punya cerita ketika aku masih
sangat kecil.
Saat itu aku sedang bermain di halaman belakang
rumahku yang sangat luas –bersama kelinciku- berdekatan dengan sebuah hutan. Di
sana terdapat sebuah gubuk tua. Bunda melarangku untuk masuk kesana. Aku tak tahu
alasannya kenapa.
Aku melihatnya kali ini. Tidak ada yang aneh pada
gubuk itu. Sampai tiba-tiba dia muncul, seorang anak kecil di depan gubuk. Matanya
besar dengan kepala bulat. Rambut panjang hingga tanah.
Aku mengkerutkan alis. Penasaran, aku bertanya pada bunda yang sedang membaca buku.
“Bunda, dia siapa?” tanyaku sambil menunjuk padanya.
Bunda tak menjawab, dia langsung melihat kearah yang aku tuju. Lalu dia
menatapku dan menggendongku masuk kedalam rumah. Sekali lagi, aku tak mengerti.
Keesokan harinya temanku datang. Iwar membawa
banyak coklat dari ayahnya yang kerja di Malaysia.
“Kandi, kamu mau coklat?” dia menaruh coklat itu di
depanku. Aku mengambilnya satu dan memakannya, rasanya sangat manis. Mungkin
anak kecil yang ada di depan gubuk itu akan menyukainya. Tapi-
“Dengar anak-anak, kalian dilarang mendekati gubuk
di dalam hutan. Ingat ya.” bunda bilang seperti itu. Dia bahkan mengancam tak
akan memberi kami makan jika kami melanggar. Akhirnya kami cuma menurut.
Kami pun bermain di ruang keluarga yang menghadap
tepat kearah hutan di belakang rumah. Mengambil kerayon yang tadi sudah
disiapkan bunda, dan mulai menggambar kesukaan masing-masing. Saat aku sedang
asyik menggambar kelinci, aku melihat kearah Iwar yang terdiam sambil menatap
kearah jendela. Karena penasaran, aku ikut melihatnya.
Anak kecil itu lagi. Berdiri beberapa langkah dari
luar rumah. Semilir angin dingin berhembus dan membuat tubuh agak menggigil. Entah
kenapa, kali ini badannya lebih besar, dan tangannya sangat panjang. Adik perempuanku yang masih bayi tiba-tiba menangis kencang. Padahal tadi dia tertidur
pulas. Akhirnya bunda datang dan menenangkannya.
“Dia teman kamu?” tanya Iwar tiba-tiba. Mata coklat
kayu jati itu memandangku dengan tatapan tak terbaca. Aku menggeleng cepat. Aku
bilang kalau dia kenalan. Lalu Iwar berkata lagi,
“Dia jahat. Jangan dekati dia.”
“Kenapa jahat?”
“Dia parasit….” katanya pelan, sambil kembali
menggambar. Aku sempat melihat kertas gambarnya, sosok perempuan berambut hitam
panjang dengan gaun merah polos yang sedang bermain bersama lima orang bocah. Aku
pikir itu pasti Iwar, kakaknya, dan ketiga adiknya.
Karena penasaran, aku mengalihkan pandanganku untuk
melihat anak kecil itu sekali lagi. Beberapa saat dia hanya terdiam, sampai aku pun mulai membelalak dan menjerit ketakutan.
Kepalanya tiba-tiba saja jatuh…
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar