Quote

“Good friends, good books, and a sleepy conscience: this is the ideal life.”

Mark Twain

Rabu, 03 Oktober 2018

Definisi Kepariwisataan & Macam - Macam Kepariwisataan


DEFINISI KEPARIWISATA
  • Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata (Yoeti)
  • Suatu seni dari lalu lintas masyarakat, di mana orang-orang berdiam di suatu tempat asing untuk maksud tertentu, tetapi keberadaannya tidak dimaksudkan untuk tinggal menetap (Dr. Hubert Gulden)
Sedangkan secara etymologis kata “pariwisata” berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari tiga suku kata sebagai berikut : 
  • Pari : berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar, lengkap (ingat kata paripurna)  
  • Wis (man) : berarti rumah poperti, kampung, komunitas  
  • Ata  : berarti pergi terus-menerus, mengembara (roaming about).
Secara sederhana diartikan sebagai perjalanan untuk bersenang-senang.


MACAM - MACAM PARIWISATA

Pariwisata Berdasarkan Letak Geografi

1. Pariwisata Lokal (Local Tourism).
Pariwisata setempat yang mempunyai ruang lingkup relatif sempit dan terbatas dalam tempat-
tempat tertentu saja. Contoh: wisata kota Bandung, DKI Jakarta, dan lain-lain.

2. Pariwisata Regional (Regional Tourism)
Pariwisata yang berkembang di suatu tempat atau daerah yang ruang lingkupnya lebih luas bila
dibandingkan dengan local tourism, tetapi lebih sempit dari national tourism. Contoh: Sumatera
Utara, Bali, dan lain-lain.

3. Pariwisata Nasional (National Tourism)
  • Artian sempit: Pengertian ini sama halnya dengan “pariwisata dalam negeri” atau domestic tourism, di mana titik beratnya orang-orang yang melakukan perjalanan wisata adalah warga negara itu sendiri dan warga asing yang berdomisili di negara tersebut.
  •      Artian luas: Kegiatan domestic tourism juga dikembangkan foreign tourism, di mana di dalamnya termasuk in bound tourism dan out going tourism. Jadi, selain adanya lalu lintas wisatawan di dalam negeri sendiri, juga ada lalu lintas wisatawan dari luar negeri, maupun dari dalam negeri ke luar negeri.

4. Regional-International Tourism.
Kegiatan Pariwisata yang berkembang di suatu wilayah international yang terbatas, tetapi melewati batas lebih dari dua negara dalam wilayah tersebut. Contoh: pariwisata kawasan ASEAN, Timur Tengah, Asia Selatan, Eropa Barat, dan lain-lain.

5. International Tourism.
Kegiatan pariwisata yang berkembang di seluruh negara di dunia termasuk juga regional-international tourism dan national tourism.

Jumat, 20 Januari 2017

Tanah putih sang gadis

Matahari pagi menyinari
Menerpa wajah sang gadis
Parasnya rupawan nan jelita
Rambutnya adalah mutiara hitam
Matanya coklat bagaikan kayu pohon Jati
Tubuhnya elok laksana jam pasir

kakinya terangkat,
Tangannya terbuka lebar
Dan dia berputar mengikuti arah angin.
Dia menari
Menari diatas tanah yang putih.

Tertawa bahagia
Suaranya lantang
Memanggil setiap penghuni yang ada disana
Seseorang pun datang

Siapa dia?

Pangeran tampan dari negeri Kahyangan?
Tentu saja!

Seorang pria.
Berwajah menawan
Rambutnya kuning gandum
Matanya berlensa birunya laut
Tubuhnya tegap.
Merupakan keturunan Adam yang sempurna

Tapi apa?
Sang gadis terbuai.
Ucapan manis sang pangeran membawanya pada kegelapan.

Sang pangeran jahat!

Dia mengambil tanah putih sang gadis
Menggerogotinya paksa
Lalu mengubahnya menjadi hitam.

Bau busuk sampah dan darah dimana-mana.
Mayat manusia dan hewan adalah lukisan disana
Jorok, dekil, kotor
Sang Gadis meratap
Merasakan duka dan lara yang tak berhenti.

Kasus Pembunuhan Marsinah

Latar Belakang Kehidupan Marsinah

Marsinah, lahir di Nglundo, 10 April 1969. Merupakan anak momor dua dari tiga bersaudara ini merupakan buah kasih antara Sumini dan Mastin. Sejak suia tiga tahun, Marsinah telah ditinggal mati oleh ibunya. Bayi Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya, Pu’irah yang tinggal bersama bibinya, Sini di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang. Sedangkan pendidikan menengahnya di SMPN 5 Nganjuk. Dari kecil, si gadis berkulit sawo matang ini sudah berusaha untuk menjadi mandiri. Menyadari nenek dan bibinya kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan dengan berjualan makanan kecil.


Di lingkungan keluargakanya, ia dikenal sebagai anak rajin. Jika tidak ada kegiatan sekolah, ia biasa membantu bibinya memasak di dapur. sepulang dari sekolah, ia biasa mengantar makanan untuk pamannya di sawah. Berbeda dengan teman sebayanya yang lebih suka bermain-main, ia mengisi waktu dengan kegiatan belajar dan membaca. Kalaupun keluar, paling-paling dia hanya ingin menyaksikan berita televise.


Ketika menjalani masa sekolah menengah atas, Marsinah mulai mandiri dengan mondok di kota Nganjuk. Selama belajar di SMA Muhammadiayh, ia dikenal sebagai siswi cerdas yang selalu mengukir prestasi. Semangat belajarnya memang sangat tinggi. Tapi hidupnya berubah kala dia sadar bahwa biaya untuk melanjutkan pendidikan ke IKIP tidak ada.


Menyadari sebuah kenyataan, ia pun memutuskan untuk mencari kerja. Marsinah pun mengirimkan sejumlah lamaran ke berbagai perusahaan di Surabaya, Mojokerto, dan Gresik. Sampai dia diterima di pabrik sepatu BATA di Surabaya tahun 1989. Setahun kemudia Marsinah pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Indistri, sebelum akhirnya ia pindah mengikuti perusahaan tersebut yang membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo.


Kegagalan dirinya dalam meneruskan ke perguruan tinggi tak membuatnya lupa untuk semangat belajar. Untuk menambah pengetahuan dan keterampilan ia mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris di Dian Institut, Sidoarjo. Semangat belajar yang tinggi juga tampak dari kebiasaannya menghimpun rupa-rupa informasi. Ia dikenal sebagai seorang pendiam, lugu, ramah, supel, ringan tangan dan setia kawan. Ia sering dimintai nasihat mengenai berbagai persoalan yang dihadapi kawan-kawannya. Ia pun seringkali membantu kawan-kawannya yang diperlakukan tidak adil oleh atasan. Sifatnya pun juga sangat pemberani.


Dari sikapnya inilah, Marsinah yang merupakan buruh karyawan PT. Catur Putera Surya aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggulangi, Sidoarjo. 


Kronologi Pembunuhan

Sebelumnya, pada awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50 tahun 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Himbauan tersebut tentunya disambut dengan gembira oleh karyawan, namun di sisi pengusaha berarti tambahannya beban pengeluaran perusahaan. Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT. Catur Putera Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat Edaran tersebut dengan resah. Akhirnya, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 Mei 1993. Pada tanggal itulah seluruh buruh PT. Catur Putera Surya melakukan mogok kerja. 

Pada 4 mei 1993, semua buruh melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Satpam pun sudah berjaga-jaga dengan menghalangi para buruh shift II dan shift III. Perlakuan mereka pun juga sangat keras seperti mengancam para buruh, merobek-robek poster/spanduk tuntutan, dan dikabarkan meneriaki mereka sebagai PKI selama unjuk rasa. Aparat dari koramil dan kepolisian sendiri sudah berjaga-jaga sebelum aksi unjuk rasa berlangsung.


Selanjutnya, Marsinah meminta waktu kepada pihak pengusaha untuk berunding. Perundingan pun berjalan hangat seperti yang diharapkan. Bahkan, seperti yang pernah diucapkan kawan-kawannya bahwa Marsinah merupakan pihak yang paling bersemangat dalam menyuarakan tuntutan. Dia satu-satunya yang tak ingin mengurangi tuntutan. Khususnya tentang tunjangan tetap yang belum dibayarkan pengusaha dan upah minimum sebesar Rp. 2.250,- per hari sesuai dengan kepmen 50/1992 tentang Upah Minimum Regional. Setelah perundingan yang panjang dan melelahkan, tercapailah kesepakatan bersama.


Nmun pertentangan antara buruh dan pihak pengusaha masih belum selesai. Pada tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa dasar atau alasan yang jelas, pihak tentara mendesak agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh itu pun terpaksa menandatangani surat PHK karena tekanan secara fisik maupun psikis yang bertubi-tubi. Dua hari kemudian, 8 buruh di PHK di tempat yang sama.


Marsinah sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk mengetahui keadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil oleh pihak Kodim. Marsinah pun sangat marah setelah ia mengetahui perlakuan pihak Kodim terhadap rekan-rekannya. Setelah itu, Marsinah mengancam pihak tentara bahwa ia akan melaporkan perbuatan sewenang-wenang mereka terhadap para buruh tersebut kepada Pamannya yang merupakan seorang Jaksa di Surabaya dengan membawa surat panggilan kodim milik salah seorang kawannya. Pada tanggal 6, 7, dan 8 Mei 1993, keberadaan Marsinah pun menghilang dan tak diketahui kabarnya. Sampai ia ditemukan tak bernyawa pada tanggal 9 Mei 1993. 


Mayat Marsinah ditemukan dengan tubuh penuh luka di hutan Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk. Badannya tergeletak dalam posisi melintang. Sekujur tubuhnya penuh luka memar bekas pukulan benda keras. Kedua pergelangannya lecet-lecet, mungkin saja akibat diseret dalam keadaan terikat. Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda keras berkali-kali. Di sela-sela pahanya ada bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul. Pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah. Mayatnya ditemukan dalam keadaan lemas, mengenaskan. Berdasarkan visum dari Rumah Sakit Umum  daerah Nganjuk. Marsinah diduga telah diperkosa sebelum benar-benar dibunuh. 


Pembentukan Tim, Komnas HAM, dan Sidang pembunuhan Marsinah 

Tanggal 30 September 1993 telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk menyelidiki kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyelidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya. 

Delapan petinggi PT. CPS, termasuk Kepala Personalia PT. CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. Mereka ditangkap secara diam-diam tanpa prosedur resmi. Mereka bahkan dipaksa mengaku karena telah melakukan skenario untuk membunuh Marsinah. 18 hari kemudian, mereka baru diketahui telah mendekam di tahanan dan dituduh terlibat dengan kematian Marsinah.          Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah.


Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan Marsinah. Bahkan, Salah satu dari 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI. Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, bahwa Suprapto (pekerja di bagian kontrol CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.


Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu dihukum berkisar 4 s/d 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala tuduhan sehingga mereka bebas murni. Alasannya, karena semua saksi memberikan keterangan yang terus berganti. Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan dari kasus ini hanyalah "rekayasa".


Beberapa tahu kemudian, tim Komnas Ham pun menemukan bahwa adanya indikasi keterlibatan tiga anggota militer dan seorang sipil dalam kasus pembunuhan Marsinah. Salah satu anggota Komnas HAM Irjen Pol. (Purn) Koesparmono Irsan mengemukakan, jika kasus pembunuhan Marsinah ingin terungkap, semua pihak harus terbuka berdasarkan landasan hukum, bukan masalah politik. Ia beranggapan, jika masalah itu dibuka secara tuntas maka kredibilitas siapa saja akan terangkat. 


Ia mengakui bahwa kasus yang sudah terjadi tujuh tahun lalu itu hampir mendekati kadaluwarsa untuk diproses secara hukum. Kendala lain yang dihadapi kepolisian saat ini adalah masalah pengakuan dari semua pihak.


Temuan lain Komnas HAM yaitu dalam proses penangkapan dan penahanan para terdakwa dalam Kasus Marsinah waktu lalu itu, sebenarnya melanggar hak asasi manusia. Bentuk pelanggaran yang disebutnya bertentangan dengan KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Komnas HAM mengimbau, pelaku penganiayaan itu harusnya diperiksa dan ditindak.


Setelah melalui proses kasasi di MA yang mencabut semua tuduhan terhadap para terdakwa dalam Kasus Marsinah tersebut diatas, sama sekali tida menghentikan tuntutan masyarakat luas bahkan internasional melalui ILO, yang selalu menuntut pemerintah RI untuk tetap berupaya mengusut tuntas Kasus Marsinah yang dalam catatan ILO dikenal dengan sebutan kasus 1713.



Komitmen pemerintah RI dalam menuntaskan kasus tersebut awalnya diperlihatkan pada saat pemerintahan era Presiden Abdurrahman Wahid. Beliau memberikan perintah kepada Kapolri agar melakukan penyelidikan dan penyidikan lanjutan demi mengungkapkan pembunuhan  Marsinah. Begitu juga pada saat pemerintahan era Presiden Megawati Soekarno Putri yang juga memiliki komitmen yang sama untuk tetap berupaya menuntaskan Kasus Marsinah. Namun, sampai sekarang pun Kasus Marsinah tetap menjadi teka-teki.

Opini

Pekerajaan menjadi buruh memberikan kita kesadaran bahwa menjadi buruh sendiri merupakan hal yang sangat sulit. Terkadang, pekerjaan ini masih suka dipandang rendah oleh sebagaian orang di abad 21 ini. permasalahan jam kerja, istirahat, gaji, uang lembur, dan ansuransi bisa menjadi sebuah masalah. Bukanlah tidak mungkin jika kebanyakan buruh masih susah untuk menghidupi dirinya sendiri di Negara ini.

Berdasarkan penjelasan diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa kasus pembunuhan Marsinah sendiri memang merupakan pelanggaran HAM yang cukup berat. Semua kegiatan unjuk rasa yang ia pelopori, sayangnya justru bisa membawanya pada kematian. Kasus Marsinah yang belum tuntas sampai sekarang pun adalah sebuah kenyataan bahwa hukum di Negara kita sendiri masih lembek. Semua orang yang memiliki sangkut paut dengan kematian Marsinah pun sudah tidak ada lagi sehingga susah untuk bisa di dakwa. Bahkan kasusnya hampir kadaluwarsa. Walaupun kasus ini masih ditolak untuk dilupakan oleh beberapa pihak. Marisanah, ia bukan PKI, ia bukan egois. Ia adalah seorang kawan, seorang wanita dan pekerja yang menginginkan haknya untuk didengar dan diberikan.



Source:

Jumat, 23 Desember 2016

A Little Child

Namaku Kandi, aku punya cerita ketika aku masih sangat kecil.

Saat itu aku sedang bermain di halaman belakang rumahku yang sangat luas –bersama kelinciku- berdekatan dengan sebuah hutan. Di sana terdapat sebuah gubuk tua. Bunda melarangku untuk masuk kesana. Aku tak tahu alasannya kenapa.

Aku melihatnya kali ini. Tidak ada yang aneh pada gubuk itu. Sampai tiba-tiba dia muncul, seorang anak kecil di depan gubuk. Matanya besar dengan kepala bulat. Rambut panjang hingga tanah.
Aku mengkerutkan alis. Penasaran, aku bertanya pada bunda yang sedang membaca buku.

“Bunda, dia siapa?” tanyaku sambil menunjuk padanya. Bunda tak menjawab, dia langsung melihat kearah yang aku tuju. Lalu dia menatapku dan menggendongku masuk kedalam rumah. Sekali lagi, aku tak mengerti.

Keesokan harinya temanku datang. Iwar membawa banyak coklat dari ayahnya yang kerja di Malaysia.

“Kandi, kamu mau coklat?” dia menaruh coklat itu di depanku. Aku mengambilnya satu dan memakannya, rasanya sangat manis. Mungkin anak kecil yang ada di depan gubuk itu akan menyukainya. Tapi-

“Dengar anak-anak, kalian dilarang mendekati gubuk di dalam hutan. Ingat ya.” bunda bilang seperti itu. Dia bahkan mengancam tak akan memberi kami makan jika kami melanggar. Akhirnya kami cuma menurut.

Kami pun bermain di ruang keluarga yang menghadap tepat kearah hutan di belakang rumah. Mengambil kerayon yang tadi sudah disiapkan bunda, dan mulai menggambar kesukaan masing-masing. Saat aku sedang asyik menggambar kelinci, aku melihat kearah Iwar yang terdiam sambil menatap kearah jendela. Karena penasaran, aku ikut melihatnya.

Anak kecil itu lagi. Berdiri beberapa langkah dari luar rumah. Semilir angin dingin berhembus dan membuat tubuh agak menggigil. Entah kenapa, kali ini badannya lebih besar, dan tangannya sangat panjang. Adik perempuanku yang masih bayi tiba-tiba menangis kencang. Padahal tadi dia tertidur pulas. Akhirnya bunda datang dan menenangkannya.

“Dia teman kamu?” tanya Iwar tiba-tiba. Mata coklat kayu jati itu memandangku dengan tatapan tak terbaca. Aku menggeleng cepat. Aku bilang kalau dia kenalan. Lalu Iwar berkata lagi,

“Dia jahat. Jangan dekati dia.”

“Kenapa jahat?”

“Dia parasit….” katanya pelan, sambil kembali menggambar. Aku sempat melihat kertas gambarnya, sosok perempuan berambut hitam panjang dengan gaun merah polos yang sedang bermain bersama lima orang bocah. Aku pikir itu pasti Iwar, kakaknya, dan ketiga adiknya.

Karena penasaran, aku mengalihkan pandanganku untuk melihat anak kecil itu sekali lagi. Beberapa saat dia hanya terdiam, sampai aku pun mulai membelalak dan menjerit ketakutan.

Kepalanya tiba-tiba saja jatuh…
.
.
.

Self Product Ads

Chocolate Spices


Do you love Chocolate?

Here we tell you about our chocolates product with spices. Our chocolate comes from high-quality chocolate, planted in a clean and hygienic condition. Chocolate even can make your mood better because the sweetness.

Not all people love chocolate, but we give you the best chocolate for the chocolate lovers on there!

If you really interested and want to buy our product, please call us!
Phone no : 0823XXXXXX
see our official website : ChocolateSpices.website
or come over to our house in Jalan akses UI, Depok.

We will give you discount if you purchase over Rp. 200.000,00


__________
WARNING: this is not real. i make this for my homework

Jumat, 04 November 2016

Advertising Structure

Structure is an arrangement and organization of interrelated elements in a material object or system, or the object or system so organized. Material structures include man-made objects such as buildings and machines and natural objects such as biological organisms, minerals and chemicals. Abstract structures include data structures in computer science and musical form. Types of structure include a hierarchy (a cascade of one-to-many relationships), a network featuring many-to-many links, or a lattice featuring connections between components that are neighbors in space. (Wikipedia)

Organizational Structure of the Advertising Agencies

The structure of an advertising agency may be different depending on the type of agency. By structure, we mean as to how the jobs, tasks or functions are arranged in the organizational hierarchy. Generally the organizations follow a functional structure, wherein different departments are constituted around different functions. For example, as shown in the figure below, there may be different departments for account management, account planning, creative and media functions.

Example of Advertising Structure


The Structure of Advertising Agency



Advertising agencies come in all shapes and sizes. Some are small boutique shops that have just a few people. Others are giants that employ thousands of people in offices all around the world.

But however large or small the agency, there a basic structure that most advertising agencies stick to. In the smaller agencies, some people will perform more than one role. One person may actually be the entire department.

But the fundamentals are the same, and it's because this model was born out of necessity and it works.

The Six Major Departments in Any Agency

Six very different, but essential, departments that make it possible to produce effective advertisements. These can be split into other sub-departments, or given various creative names, but the skeleton is the same.

These departments are:
  1. Account Service
  2. Account Planning
  3. Creative
  4. Finance & Accounts
  5. Media Buying
  6. Production
Larger agencies may also separate out the following departments:
  1. Human Resources & Facilities
  2. Research
  3. Web Development
  4. Traffic
Now, let's take a look at the breakdown of those six major departments. Remember, although many agencies have different takes on these, the premise is the same. 

1. Account Services

The account service department comprises account executives, account managers, and account directors, and is responsible for liaising with the agency's many clients.

This department is the link between the many departments within the agency and the clients who pay the bills. In the past they were referred to as "the suits," and there have been many battles between the account services department and the creative department. But as most creatives know, a good account services team is essential to a good advertising campaign.

A solid creative brief is one of the main duties of account services.

2. Account Planning

This department combines research with strategic thinking. Often a mix of researchers and account managers, the account planning department provides consumer insights, strategic direction, research, focus groups and assists helps keep advertising campaigns on target and on brand. Chris Cowpe described account planning as "…the discipline that brings the consumer into the process of developing advertising. To be truly effective, advertising must be both distinctive and relevant, and planning helps on both counts."

3. Creative

This is the engine of any advertising agency. It's the lifeblood of the business because the creative department is responsible for the product. And an ad agency is only as good as the ads the creative department puts out. The roles within the creative department are many and varied, and usually include:

  • Copywriters
  • Art Directors
  • Designers
  • Production Artists
  • Web Designers
  • Associate Creative Directors
  • Creative Director(s)
In many agencies, copywriters and art directors are paired up, working as teams. They will also bring in the talents of other designers and production artists as and when the job requires it. Sometimes, traffic is handled by a position within the creative department, although that is usually part of the production department. Everyone within creative services reports to the Creative Director. It is his or her role to steer the creative product, making sure it is on brand, on brief, and on time.

4. Finance & Accounts

Money. At the end of the day, that's what ad agencies want. And it's what their clients want, too. At the center of all the money coming into, and going out of, the agency is the finance and accounts department. This department is responsible for handling payment of salaries, benefits, vendor costs, travel, day-to-day business costs and everything else you'd expect from doing business. It's been said that approximately 70% of an ad agency's income pays salary and benefits to employees. However, this figure varies depending on the size and success of the agency in question.

5. Media Buying

It is the function of the media buying department to procure the advertising time and/or space required for a successful advertising campaign. This includes TV and radio time, outdoor (billboards, posters, guerrilla), magazine and newspaper insertions, internet banners and takeovers, and, well, anywhere else an ad can be placed for a fee. This usually involves close collaboration with the creative department who came up with the initial ideas, as well as the client and the kind of exposure they want.This department is usually steered by a media director.

6. Production

Ideas are just ideas until they're made real. This is the job of the production department. During the creative process, the production department will be consulted to talk about the feasibility of executing certain ideas. Once the ad is sold to the client, the creative and account teams will collaborate with production to get the campaign produced on budget. This can be anything from getting original photography or illustration produced, working with printers, hiring typographers and TV directors, and a myriad of other disciplines needed to get an ad campaign published. Production also works closely with the media department, who will supply the specs and deadlines for the jobs.

Don't Forget Traffic

In small to mid-sized agencies, traffic is rolled up into the production department. It is the job of traffic to get each and every job through the various stages of account management, creative development, media buying and production in a set timeframe. Traffic will also ensure that work flows through the agency smoothly, preventing jams that may overwhelm creative teams and lead to very long hours, missed deadlines and problematic client relationships. Traffic keeps the agency's heart beating.


Source: